Cara Syaifuddin Amsir Tokoh NU Berdusta dan « Menjilat » Syiah

Tuesday, 29 October 2013, 2:08 | Dunia Islam | 0 Comment | 23 Views
by admbangsa
 Added on 28 October 2013  nahimunkar.com   , ,

Cara Syaifuddin Amsir Tokoh NU Berdusta dan « Menjilat » Syiah

WP Greet Box icon

Jika Anda baru berkunjung, jangan lupa untuk Berlangganan Gratis (via email/RSS). Terima kasih atas kunjungannya!

  • Nasakom (nasional, agama—NU–, dan komunis, red NM)  bolehlah dikritisi sebagai sesuatu yang saling bertabrakan, tapi tidak demikian mengenai perbedaan syiah dan sunni.

Rois Syuriah PBNU KH Syaifuddin Amsir berpidato dalam seminar peringatan Idul Ghadir di Gedung Smesco, Pancoran, Jakarta Selatan, Sabtu, 26/10/2013.

Di antara pidatonya yang berisi kedustaan dan bahkan « menjilat » syiah bunyinya:

Kalau ini (Nasakom : nasional, agama—NU–, dan komunis, red NM)  bolehlah dikritisi sebagai sesuatu yang saling bertabrakan untuk menjepit yang dibuat malang, nasionalisme agama komunis. Tapi kalo syii-sunni yang ini kiblatnya ya ada di kiblat di Mekkah yang ini Qur’annya Qur’anuna wahid, kalau main salah-salahan habislah semuanya. Itulah yang saya simpulkan saat itu. 

« …Bahkan yang benar adalah dari perbedaaan-perbedaan bisa dicari persamaan-persamaan, dari persamaan-persamaan bisa dicari alat-alat persatuan. »

Coba mari kita bandingkan pidato Syaifuddin Amsir dari NU itu dengan rujukan dari ulama:

Syiah memiliki Tuhan dan Nabi yang berbeda dengan Tuhan dan Nabi-nya kaum Muslimin, Sayyid Nikmatullah Al-Jazairi –seorang ulama rujukan Syiah- mengatakan,

وحاصله إنا لم نجتمع على إله ولا على نبي ولا على إمام، وذلك أنهم يقولون أن ربهم هو الذي كان محمد صلى الله عليه وسلم نبيه وخليفته بعده أبو بكر. ونحن لا نقول بهذا الرب ولا بذاك النبي، بل نقول إن الرب الذي خليفته أبو بكر ليس ربنا ولا ذلك النبي نبينا.

Kesimpulannya: kita (Syiah Imamiyah dan Ahlus Sunnah) tidak satu Tuhan, tidak satu Nabi dan tidak satu Imam. Pasalnya, Tuhan yang mereka (Ahlus Sunnah wal Jamaah) akui adalah Tuhan yang menjadikan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Nabi-Nya dan Abu Bakar sebagai khalifahnya sepeninggal beliau, sedangkan kami (Syiah Imamiyah) tidak mengakui Tuhan yang seperti ini. Akan tetapi Tuhan yang menjadikan Abu Bakar sebagai khalifah bukanlah Tuhan kami, dan Nabi itu pun bukanlah Nabi kami. (Al-Anwar Annu’maniyyah, Sayyid Nikmatullah Al-Jazairi, jilid 2, hlm. 278, Mu’assasah Al-‘Alami Lil Matbu’at, Beirut, Lebanon.)

Bukti Kekufuran Syi’ah terhadap Al-Qur’an

 Ayat

الشيعة والقرآن للشيخ: عثمان الخميس

Salah satu perbedaan yang tajam antara akidah Islam dan doktrin Syi’ah adalah cara pandang terhadap kitab suci Al-Qur’anul Karim.

Pandangan Islam Terhadap Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kitab suci kaum muslimin dan rujukan pertama dalam memahami Islam. Keimanan kepada al-Qur’an merupakan salah satu rukun dari rukun iman yang enam. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini seyakin-yakinnya bahwa Al-Qur’an Al-Karim adalah Kalamullah yang terpelihara dari perubahan, penambahan atau pengurangan. Karena, Allah telah berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ [الحجر/9]

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Qs. Al-Hijr 9).

Ayat ini adalah jaminan dari Allah sendiri, bahwa kitab suci-Nya tidak akan mengalami pengurangan atau penambahan atau pun perubahan. Sebab, Allah  sendiri-lah yang akan langsung menjaganya. Allah  juga berfirman:

وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ (41) لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ [فصلت/41، 42]

“Dan Sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang padanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (Qs. Fushshilat 41-42).

Allah telah menegaskan bahwa kitab suci-Nya Al-Qur’an ini diturunkan dengan persaksian dan keilmuan Allah.

….Syi’ah meyakini bahwa Al-Qur’an yang ada sekarang bukanlah Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi karena telah dirubah dan dikurangi….

Pandangan Syi’ah Terhadap Al-Qur’an

Syi’ah berkeyakinan bahwa tidak ada yang mengumpulkan Al-Qur’an dengan lengkap selain Ali bin Abi Thalib dan para imam sesudahnya. Mereka meyakini bahwa Al-Qur’an yang ada sekarang bukanlah Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi karena telah dirubah dan dikurangi. Mereka meyakini adanya mushaf (kitab suci) yang disebut mushaf Fathimah. Mushaf ini adalah Al-Qur’an yang asli (belum mengalami perubahan) Yang tiga kali lebih tebal daripada Al-Qur’an yang ada di tangan kaum muslimin saat ini, dan mushaf tersebut akan kembali hadir ke dunia dengan dibawa oleh Imam yang ke-12 yaitu Imam Mahdi.

Al-Kulaini, seorang ulama Syi’ah, meriwayatkan dalam Ushuul al-Kaafi bab al-Hujjah, dari Abu Bashir dari Abu Abdillah ia berkata:

وَ إِنَّ عِنْدَنَا لَمُصْحَفَ فَاطِمَةَ (عليها السلام) وَ مَا يُدْرِيهِمْ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ (عليها السلام) قَالَ: قُلْتُ: وَ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ (عليها السلام) قَالَ مُصْحَفٌ فِيهِ مِثْلُ قُرْآنِكُمْ هَذَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَ اللَّهِ مَا فِيهِ مِنْ قُرْآنِكُمْ حَرْفٌ وَاحِدٌ

“Sesungguhnya di sisi kami terdapat Mushaf Fathimah -‘alaihas salam-. Tahukah mereka apakah Mushaf Fathimah-‘alaihas salam- itu ?” Saya menjawab, “Apakah Mushaf Fathimah itu?” Dia berkata, “Di dalamnya terdapat seperti al-Qur’an kalian ini sebanyak tiga kalinya. Demi Allah, tidak ada di dalamnya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian” (Ushuul al-Kaafi bab al-Hujjah).

Kekufuran Syi’ah Terhadap Al-Qur’an

Kaum muslimin sejak zaman Nabi hingga kini telah ber-ijma’ bahwa al-Qur’an yang ada di tengah-tengah umat ini adalah Al-Qur’an yang asli sebagaimana diturunkan Allah  kepada Rasul-Nya. Tidak mengalami penambahan, pengurangan, ataupun perubahan. Tidak ada yang menyelisihi ijma’ ini kecuali Syi’ah.

Allah telah berfirman:

لَكِنِ اللَّهُ يَشْهَدُ بِمَا أَنْزَلَ إِلَيْكَ أَنْزَلَهُ بِعِلْمِهِ وَالْمَلَائِكَةُ يَشْهَدُونَ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا [النساء/166]

“Akan tetapi Allah bersaksi atas apa yang Dia turunkan kepadamu (yakni Al-Qur’an). Allah telah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan para malaikat-pun menjadi saksi (pula). Dan cukuplah Allah sebagai saksi” (QS. An-Nisa’ 166).

Allah telah menegaskan bahwa kitab suci-Nya Al-Qur’an ini diturunkan dengan persaksian dan keilmuan Allah . Maka tidak mungkin jika al-Qur’an yang telah disaksikan oleh Allah akan kebenarannya itu ternyata mengalami perubahan meskipun sedikit.

….Barangsiapa yang meyakini adanya perubahan dalam Al-Qur’an sepeninggal Rasulullah, maka ia telah kafir…

Para ulama juga telah ber-ijma’ bahwa barangsiapa yang meyakini adanya perubahan dalam Al-Qur’an sepeninggal Rasulullah, maka ia telah kafir. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya,Ash-Sharimul Maslul: “Barangsiapa mengklaim bahwa Al-Qur’an telah dikurangi sebagian ayat-ayatnya, atau disembunyikan maka tidak ada perselisihan lagi tentang kekafirannya.”

[Sumber: Lajnah Ilmiah Hasmi, “Syiah Bukan Islam?” Bogor: Pustaka MIM].

Voaislam, Ahad, 05 Jun 2011

(nahimunkar.com) http://www.nahimunkar.com/bukti-kekufuran-syiah-terhadap-al-quran/

Bukti-bukti tersebut jelas menunjukkan dustanya pidato Syaifuddin Amsir dari NU yang bunyinya: « …Bahkan yang benar adalah dari perbedaaan-perbedaan bisa dicari persamaan-persamaan, dari persamaan-persamaan bisa dicari alat-alat persatuan. »

Untuk mengetahui seberapa dusta dan “menjilatnya” Syaifuddin Amsir (orang Betawi yang di NU) terhadap Syi’ah, inilah berita tentang pidatonya di acara penistaan terhadap para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bahkan dirayakan syiah dengan perayaan Ghadir. Di antara penistaan, silakan simak berita “Pembangkangan Umar Bin Khatab” di Slide Acara Ghadir Perayaan Syiah Kecam Sahabat Nabi http://www.nahimunkar.com/pembangkangan-umar-bin-khatab-di-slide-acara-ghadir-perayaan-syiah-kecam-sahabat-nabi/

***

 

Syi'ah Ied GhadirRais Syuriah PBNU KH Syaifuddin Amsir (kiri) sedang berbincang dengan Ketua Dewan Syuro Ijabi Jalaluddin Rakhmat dalam seminar internasional dalam rangka peringatan Idul Ghadir di Gedung Smesco, Pancoran, Jakarta Selatan, Sabtu, 26/10/2013.

 .

JAKARTA (Arrahmah.com) – Ikatan Jamah Ahlul Bait Indonesia (Ijabi), salah satu organisasi kaum Syiah di Indonesia pada Sabtu, 26 Oktober 2013 lalu, di Gedung Smesco, Pancoran, Jakarta Selatan,  menggelar peringatan Idul Ghadir. Acara peringatan dikemas dalam bentuk seminar internasional bertajuk “Imam Ali as Putra Ka’bah Pemersatu Ummat”.

Selain tokoh syiah Indonesia yang sekaligus Ketua Dewan Syuro Ijabi Jalaluddin Rakhmat, panitia mengundang tokoh NU dan Muhammadiyah sebagai pembicara, yakni Rois Syuriah PBNU KH Syaifuddin Amsir, MA dan Ketua PP Aisiyah yang juga Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta Prof Dr Masyitoh Chusnan. Selain mereka juga hadir budayawan Ridwan Saidi,  Dubes Paraguay dan Dubes Iran serta seorang cendekiawan dari Iran.

Berikut adalah kutipan lengkap isi pidato Rois Syuriah PBNU KH Syaifuddin Amsir dalam seminar yang diikuti sekitar 1500 pengikut Syiah Indonesia itu:

Saya sudah cukup lama membuat suatu kesimpulan yang saya belum pernah menemukan bagaimana rasanya membuat kesimpulan itu menjadi berubah. Yaitu sejak tahun ’81, waktu datang delegasi yang diutus oleh pemerintah Iran, yang saya masih ingat namanya, Syekh Abdul Qadir Al Katiri Asy Syafii. Beliau datang mengawal salah satu orang alim besar dari Iran sana yang begitu mengesankan saya pada saat memaparkan apa yang ia rasakan tentang Indonesia dengan pernik-pernik pandangannya yang berupa-rupa, yang bermacam-macam terhadap Iran itu

Saat itu Abdul Qadir Al Katiri Asy Syafii, yang mungkin ia dari Kurdistan, memeluk saya saat saya menerjemahkan kalimat-kalimatnya buat para mahasiswa, buat anak-anak SMA, anak-anak sekolah madrasah yang datang ingin tahu rupa dari revolusi dan dari kembalinya al Imam Ayatullah Ruhullah al Khameini itu berikut pengantarnya-pengantarnya.

OIoo begini rupanya, revolusi Iran ditulis secara lengkap oleh Prof Dr Nasir Tamara yang belum jadi profesor saat itu sekitar tahun ’81. Dan saya menjadi terkejut juga ketika berkomentar, sampai saya tidak tahu lagi namanya,  Ayatullah dari Iran itu yang berkata, “Kalian itu masih banyak yang terkungkung dengan kejahatan pers internasional. Sebab kalian hanya mendengar info yang dilansir dari koran-koran di Indoensia bahwa kami orang Iran memenjarakan ilmuwan-ilmuwan dari kalangan sunni. Bila anda datang kesana anda akan melihat sesuatu yang sama sekali berbeda bahwa kamilah yang menghormati ilmu dan menghormati para ilmuwan sunni yang kami posisikan pada tempatnya yang benar. Dia ilmuwan kami beri jatah mereka sebagai ilmuwan.”

Pada jumpa pertama di tahun ’81 di Jakarta di Kedutaan Iran itu saya mendengar info seperti ini. Dan betapa hebatnya, menurut perasaan saya, ketika dalam pemaparan yang menggebu-gebu itu beliau hanya membagikan-bagikan kepingan-kepingan seperti uang dari logam, kepingan logam itu yang bersimbolkan Masjidil Haram..ee Masjidil Aqsha. Bagaimana dengan Masjidil Aqsha?. Itulah tawaran mereka. Siapa yang berkuasa di sana sekarang ini?. Orang tahu Masjid Haram di Mekkah, Masjid Nabawi di Madinah yang kedua-duanya masih dalam kekuasaan kaum muslimin, tapi bagaimana dengan Al Aqsha?.

Eee saya kira suatu pertanyaan yang dirasakan siapa saja, “man lam yahtamma bi amril muslimina falaysa minhum.” Itulah yang tersemat dalam ingatan saya.

Hadirin hadirot yang saya cintai saya mulyakan

Kesimpulan yang saya maksud saat itu, bila tujuan sama, bila jalannya sama, bila yang disembah sama, bila kitab sucinya sama, tetapi dalam kesamaan-kesamaan yang begitu mendominasi seluruh daerah pemikiran di dunia Islam, lalu dari sesuatu yang serba sama muncul tuduhan-tuduhan saling salah dan saling berbeda maka semua orang akan berkesimpulan tidak ada yang benar di dalam dunia Islam. Tidak ada lagi yang patut diikuti di dalam dunia Islam.

Kata syi’i, antum mukhtiin, ya sunniyin kamu ini orang salah semua hai ahli sunnah. Kata sunni kamu juga orang serba salah semua hai orang-orang syiah. Lalu datang pertanyaan bila kedua pihak cuma bisa menyalahkan lantas siapa yang benar?. (tepuk tangan)

Untuk Indonesia, saya kan masih ikut mengalami meskipun serba sedikit ya zaman pemberontakan PKI di tahun ’65 itu. Sebelumnya kan muncul ke atas, yang mereka eluk-elukkan dengan sebutan Nasakom. Maafkan saya menyebut ini, dulu simbol mereka boleh didendangkan sedikit ya sesuai dengan lagu yang ada:

(menyanyi)

Nasakom bersatu, singkirkan kepala batu
Nasakom satu cita sosialisme pasti jaya.

saya anak SD waktu itu

Iki piye iki piye iki piye
sandang pangan larange koyo ngene
akibate salah urus ranok kabeh
mulo  ayo diganyang wae
yo saiki yo saiki yo saiki
wes ono deklarasi ekonomi
senjata ampuh mitayani
kanggo mbasmi kaum korupsi..

(tepuk tangan)

Lagu itu menyembul dari ranahnya orang-orang Komunis di Indoneisa. Tapi dengan begitu gesitnya, cerdiknya, dia menggabung ini NASAKOM dia bilang. Disini nasionalis, disini agama, disini komunis. Tapi ujung cerita kata Pak Jurmawel Ahmad sang auditur saat itu, “Anda berdua-dua menggencet agama, nasionalis hurufnya tiga, komunis hurufnya tiga, orang beragama hanya satu huruf, NASAKOM”. 

Itu yg masih saya ingat di zaman itu. Kalau ini bolehlah dikritisi sebagai sesuatu yang saling bertabrakan untuk menjepit yang dibuat malang, nasionalisme agama komunis. Tapi kalo syii-sunni yang ini kiblatnya ya ada di kiblat di Mekkah yang ini Qur’annya Qur’anuna wahid, kalau main salah-salahan habislah semuanya. Itulah yang saya simpulkan saat itu. 

Makanya dalam pertemuan terakhir yang saya pikirkan saya sangat terpesona dengan apa yang saya bawa pulang ke Indonesia saat saya diundang ke Iran sana. Saya ketemu banyaknya ulama ahlussunah wal jamaah dan banyaknya ulama-ulama dari kalangan syiah yang semuanya sepakat untuk berkata “falaysia ma’na taqrib bi an yanqariba an sunni syiiyan wa an yanqariba syi’i sunniyan”, arti taqrib itu bukan berarti secara total membuat suatu perubahan secara total sampai orang syii berubah menjadi sunni, atau sunni berubah menjadi syii, kata mereka. 

Saya terangkan, itu diungkapkan oleh puluhan ulama baik dari kalangan sunni maupun dari kalangan syi’i. Bahkan yang benar adalah dari perbedaaan-perbedaan bisa dicari persamaan-persamaan, dari persamaan-persamaan bisa dicari alat-alat persatuan.

Sambutan saya cuma sampai disini mudah-mudahan ada manfaatnya. Maafkan bila terkhilaf.

(suara-islam.com/arrahmah.com) Samir Musa, Senin, 23 Zulhijjah 1434 H / 28 Oktober 2013 14:11

(nahimunkar.com)

by nahimunkar.com

Nahimunkar.com menyajikan berbagai berita yang berkaitan dengan Islam dan aliran-aliran sesat diantaranya: Syi’ah, Sepilis, LDII, dan Ahmadiyah.


Go to Source
Author: nahimunkar.com

Leave a reply