PRODUK SAWIT: PTPN IV dan PT MUSIM MAS operasikan pabrik oleokimia

Wednesday, 22 August 2012, 3:01 | Bisnis | 0 Comment | 362 Views
by admbangsa

MEDAN: PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV Medan bekerja sama dengan PT Musim Mas (MM) untuk mengoperasikan pabrik oleokimia berkapasitas 1.800 ton per hari di Belawan dengan investasi sekitar Rp500 miliar.

Direktur Perencanaan dan Pengembangan PTPN IV Medan Memet Wiramihardja membenarkan pabrik oleokimia yang dioperasikan bersama perusahaan swasta itu adalah usaha patungan dengan komposisi saham 60% PT Musim Mas dan 40% PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV Medan.

“Pabriknya sudah beroperasi dengan memanfaatkan eks lokasi pabrik minyak nabati milik PTPN IV di Belawan. Kami mengobah pabrik olein di Belawan itu menjadi pabrik oleokimia dengan menanamkan investasi baru sekitar Rp500 miliar,” ujarnya menjawab Bisnis di Medan Rabu (22/8).

Paberik oelin yang selama ini menjadi anak perusahaan PTPN IV dibawah bendera PT Pamina Adolina sudah dilikuidasi tahun lalu karena selalu merugi akibat kapasitas produksi yang relatif kecil.

Sementara itu, Dirut PTPN IV Erwin Nasution mengatakan langkah BUMN itu masuk ke industri hilir seperti oleokimia adalah salah satu upaya untuk menyeimbangkan produksi BUMN itu dari minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) menjadi produk jadi berupa oleokimia. Dengan demikian, lanjutnya, ketika harga CPO turun, maka tidak begitu terasa pengaruhnya kepada pendapatan PTPN IV yang mengusahai sekitar 120.000 hektare areal tanaman sawit.

“Pak Memet Wiramihardja ditunjuk Menteri BUMN sebagai ketua kelas mengembangkan pabrik oleokimia di lingkungan BUMN. Soalnya, ketika Menteri BUMN menunjuk PT Rekin (Rekaya Indonesia) sebagai pelaksana, Rekin malah menyodorkan Pak Memet, karena beliaulah ahlinya,” kata mantan Dirut PTPN I Aceh itu.

Memet Wiramihardja sebelum menjadi direktur di PTPN XIII Kalimantan Barat memang pernah menjabat salah satu direktur di PT Rekin. Dari PTPN XIII, Memet mulai tahun ini ditunjuk menjadi direktur Perencanaan dan pengembangan PTPN IV Medan.

“Jadi pemilihan pak Memet sebagai ketua kelas pengembangan oleokimia di lingkungan BUMN perkebunan pas dan tepat karena beliau sangat menguasai teknologinya.”

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Oleokimia Indonesia (Apolin) Steve Goei King menegaskan Indonesia sudah menjadi jawara tahun ini dengan mengalahkan Malaysia dalam hal memproduksi oleokimia dari minyak sawit.

“Produksi oleokimia Indonesia sudah mengungguli Malaysia tahun ini. Sejumlah pabrik oleokimia di Indonesia kini sudah beroperasi penuh mencapai dua juta ton per tahun,” ujarnya.(Bisnis 18/7)

Menurut dia, tahun lalu produksi oleokimia Indonesia masih di bawah Malaysia yang mampu memproduksi oleokimia antara 1,8 juta ton sampai 1,9 juta ton per tahun. Akan tetapi, lanjutnya, tahun ini Indonesia memproduksi oleokimia sebanyak dua juta ton dan mengungguli produksi oleokimia Malaysia. “Ke depan Indonesia tetap akan mengungguli produksi oleokimia Malaysia karena investor masih berminat masuk ke industri hilir sawit tersebut,” tuturnya.

Menurut Steve Goei King, Indonesia mampu bersaing dengan harga oleokimia yang dipasarkan Malaysia. Malahan, paparnya, Malaysia saat ini sudah menjerit karena tidak mampu bersaing dengan oleokimia asal Indonesia yang mampu menjual antara US$1.100-US$1.200 per ton.

“Malaysia sudah menjerit. Pasar oleokimia negara Jiran itu mulai tergerus dan beralih ke Indonesia. Produsen oleokimia di Indonesia mampu memberikan harga bersaing di pasar internasional, sehingga pengaruh krisis utang di Eropa tidak begitu berpengaruh kepada produksi oleokimia Indonesai,” tuturnya.

Dia mengatakan harga relatif stabil dan permintaan pun tetap naik karena harga oleokimia Indonesia relatif lebih murah dibandingkan dengan oleokimia yang dihasilkan Malaysia dengan menggunakan bahan baku sawit.

Berdasarkan catatan Bisnis anggota Apolin saat ini mencapai tujuh perusahaan a.l. PT Permata Hijau Sawit (PHS) Group, Musim Mas Group (memiliki kapasitas produksi paling besar sekitar 1,3 juta ton per tahun), Wilmar Group, Ecogreen, dan Soci Mas (milik Sinar Mas). Total kapasitas produksi ketujuh perusahaan tersebut sebagaimana diungkapkan Steve Goei King sebanyak dua juta ton per tahun. (faa)
 

Leave a reply